Latest Entries »

Loh Kok Monyet..

Ini cerita waktu jaman saya masih SMA. Ketika sedang asik-asiknya nongkrong di depan gang menuju rumah. Saya pun mulai bercerita kepada tiga temenku. Sebutlah mereka dengan Seli, Leni dan Havid (bagi yang namanya sama jangan geer ya)

“Eh.. Tadi malam saya mimpiin kalian loh” celetuk saya. “Apaan tuh?” ketiga temanku penasaran. “Gini nih, di dalam mimpi itu saya dibeliin mobil ama bokap. Seneng dong, lalu saya ajak kalian jalan-jalan pake mobil”. Langsung raut mukaku berubah jadi sedih, “Tapi waktu jalan di turunan, rem mobil blong dan kita semua masuk jurang”. Salah satu temanku komentar, “Wah mimpi buruk”. “Iya, lanjutin yah belum selesai nih”, saya menjawab.  ”Nah udah gitu, Saya terbangun entah dimana. Ada sesosok makhluk bercahaya tersenyum ke saya. Saya pikir itu malaikat. Lalu saya ditanya malaikat itu. ‘Apa kamu ingin masuk surga?’. Saya cuma bisa mengangguk karena takjub dan emang mau masuk surga. ‘Kalo begitu cari 3 merpati putih lalu temui saya lagi disini untuk menyerahkan merpati-merpati itu’.  Wah saya senang sekali, saya pamit ke malaikat lalu segera mencari-cari. Tapi ternyata merpati-merpati itu sangat susah didapat. Saya menyerah dan kembali ke tempat dimana ketemu malaikat. Di tengah perjalanan, ternyata saya bertemu kalian. Saya senang, meski menyesal telah mencelakan kalian, saya pun minta maaf ke kalian untungnya kalian tidak kecewa. Lalu saya pun bilang kalau saya bertemu dengan malaikat dan diberi tugas untuk mencari merpati. Lalu saya pun mengajak mereka untuk ketemu malaikat. Siapa tau kalo kalian jg diberi tugas untuk mencari merpati dan kita bisa mencari merpati-merpati itu bersama-sama.”

Bernapas dulu, temen-temenku tetap menyimak ceritaku.

“Malaikat itu menunggu ditempat yang dijanjikan. Lalu kita pun mendekati. ‘Malaikat ini te…’ Belum selesai berkata-kata malaikat itu bilang ‘ Mana 3 merpati putih yang saya minta, ini malah bawa 3 monyet putih’”.

Saya mengakhiri cerita dan melihat raut muka ketiga temanku yang masih serius. Karena saya tidak mampu menahan ketawa, akhirnya saya ketawa, diikuti mereka yg mulai mengerti maksud dari cerita saya.

Ini bukan mimpi, cuma bikin-bikinan aja. Saya denger guyonan ini dari kakak  dan entah dari mana dia tau itu.

Crispy banget ya guyonannya.

Be Careful of What You Say.

Tuh kan, saya ini ga konsisten. Janjinya tiap artikel di blog ini mau ditulis dalam bahasa inggris dan berdasarkan hasil jepret dari kamera, hihihi. But eniwei, asal cerita tersampaikan dan masih blog sendiri, ga apa-apa lah.

Ini cerita lama. Ketika Ibu dan Nenekku sedang dalam perjalanan ke pasar menggunakan bis umum. Mereka mendengarkan pembicaraan penumpang lain.

Ceritanya seperti ini, ada seorang Bule yang mau turun dari bis. Kebetulan bisnya penuh dengan penumpang yang berdiri. Saat bule sedang berusaha keluar dari bis, seorang penumpang berbicara kayak gini ke teman disebelahnya ‘Awas, aya monyet rek turun!‘. Ketika Bule itu ada dihadapan mereka, si Bule itu membalas omongan mereka, ‘Punten, iyeu monyet bade turun‘. Penumpang yang barusan ngomong cuma bisa nyengir dan ga nyangka kalo si Bule bisa bahasa Sunda.

Saya yang denger cerita itu ‘Tuh matakan ulah saomong-omongna‘.

Untung si bule itu nanggepinnya dengan biasa aja. The moral is ‘Be careful of what you say, because you never know who’s listening.’

Notes:

Awas, aya monyet rek turun! = Awas, ada monyet mau turun!

Punten, iyeu monyet bade turun = Permisi, ini monyet mau turun.

Tuh matakan ulah saomong-omongna = Tuh, makanya jangan asal ngomong.

Be careful of what you say, because you never know who’s listening = nyari di google translate aja gih :D

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.