Tuh kan, saya ini ga konsisten. Janjinya tiap artikel di blog ini mau ditulis dalam bahasa inggris dan berdasarkan hasil jepret dari kamera, hihihi. But eniwei, asal cerita tersampaikan dan masih blog sendiri, ga apa-apa lah.

Ini cerita lama. Ketika Ibu dan Nenekku sedang dalam perjalanan ke pasar menggunakan bis umum. Mereka mendengarkan pembicaraan penumpang lain.

Ceritanya seperti ini, ada seorang Bule yang mau turun dari bis. Kebetulan bisnya penuh dengan penumpang yang berdiri. Saat bule sedang berusaha keluar dari bis, seorang penumpang berbicara kayak gini ke teman disebelahnya ‘Awas, aya monyet rek turun!‘. Ketika Bule itu ada dihadapan mereka, si Bule itu membalas omongan mereka, ‘Punten, iyeu monyet bade turun‘. Penumpang yang barusan ngomong cuma bisa nyengir dan ga nyangka kalo si Bule bisa bahasa Sunda.

Saya yang denger cerita itu ‘Tuh matakan ulah saomong-omongna‘.

Untung si bule itu nanggepinnya dengan biasa aja. The moral is ‘Be careful of what you say, because you never know who’s listening.’

Notes:

Awas, aya monyet rek turun! = Awas, ada monyet mau turun!

Punten, iyeu monyet bade turun = Permisi, ini monyet mau turun.

Tuh matakan ulah saomong-omongna = Tuh, makanya jangan asal ngomong.

Be careful of what you say, because you never know who’s listening = nyari di google translate aja gih 😀

Advertisements