Alhamdulillah tgl 1 Desember 2013, aku dilamar.

Keluarga sih udah setuju, berhubung biar ga terlihat seperti ada paksaan, makanya keputusan terakhir diserahkan kepada saya. Awalnya sih mau jawab “Dengan berat hati saya menolak lamaran aa…. Tapi dengan senang hati saya menerima lamaran aa”. Aduh kepanjangan.

Kalo cuma bilang “Iya” ga asik ah.

Daripada kikuk jawabnya, saya mau memilih untuk diam saja karena berdasarkan hadis Nabi Muhammad Saw bersabda: “Janda itu lebih berhak atas dirinya daripada walinya, dan gadis dapat memberi pesetujuan atas dirinya, dan persetujuan itu adalah diamnya” (Dituturkan oleh Jama‘ah selain Bukhari dari Ibnu ‘Abbas, Lihat Sayyid Sabiq, Fiqhus-Sunnah, 6: 14-15).

Selama aksi tutup mulut aku sambil malu-malu itu, dibelakang tante-tanteku dah ga sabar denger jawaban dan bilang “Nampi” yang artinya “Nerima” dan detik-detik terakhir keluarlah kata-kata “Insya Allah, Semoga Aa jodoh yang telah dipilihkan Allah untuk saya. ” padahal ditanyanya dalam bahasa Sunda. Aslinya deg-degan. Buat apa sih ditanya lagi, kan udah pasti jawabannya.

Dramaqueen banget deh.

Tujuan utamanya sih buat menjalin silaturahmi dua keluarga besar dan memastikan tanggal nikah tentunya (merasa senang)

Sebenernya ini yang ditunggu-tunggu. Makan-makan, yang luar biasa menunya enak-enak: Acar Gurame (ambil di kolam belakang rumah yang diperkirakan umurnya 5 tahunan), stik sapi, ayam asam manis, sop ayam. Yumm!

Makasih yang sebesar-besarnya untuk Tante-tanteku yang udah bantu masak dan lain-lain.

*kabar bahagia mah sebar-sebar aja yah :”). gpp kan. Mohon Doanya aja.

Advertisements