Setiap pertemuan atau perpisahan, sudah Allah atur. Maka dari itu, jangan terlarut dalam kesedihan akan kehilangan.

Pada awalnya ada rasa takut, sedih, tidak percaya diri, tidak siap untuk menemui pengalaman yang baru. Terhalang oleh tembok kekurangan diri yang terlihat pada saat berada dalam kegagalan berumah tangga. ‘Aku gagal, ada yang salah dengan diriku, aku memang tidak pantas untuk dia oleh karena itu dia pergi’ kalimat-kalimat yang menumpulkan harapan. Saat itu, Aku tidak meminta kepada Allah ada pengganti dia dalam hidupku. Aku merasa yakin dengan kekuatanku untuk menjalani hidup sendiri. Tidak mau ada konflik yang berakhir dengan sayatan yang begitu perih. Betapa angkuhnya diriku, menolak nasihat dari orang-orang yang menyayangiku untuk mencari pengganti yang telah hilang.

Sekarang setelah sekian lama waktu berlalu. Ketika kembali berteman dengan keadaan. Memaafkan diri, dia dan pihak yang terpaut. Memang keadaan berbeda. Keyakinan pun beralih. Aku merasa lemah dihadapan Allah dan kekuatanku sampai saat ini ada karena Allah. Aku memohon untuk dipertemukan imam yang lebih baik, dan aku mampu menjadi makmumnya, menjadi jodoh dunia dan akhirat, menjalani kehidupan dengan berkah. Harapan itu tidak terbatas, doa terucap dengan penuh harapan, upaya dimulai dengan mencari ilmu terlebih dahulu. Semoga aku dapat membaca tanda-tanda ketika Allah sedang mengatur dan membantu apa yang telah menjadi jalan takdirku. Sehingga aku bisa terus melangkah.

*tarik napas*

Advertisements