Bismillaah

Menikah atau masih sendiri, keduanya adalah perjuangan yang tidak mudah.

Dulu waktu kita belum menikah, membayangkan memiliki pasangan adalah sesuatu yg akan sangat indah.
Yang terbayang adalah hal hal menyenangkan yg bisa dikerjakan bersama.
Yg tadinya terpisah bbrp kilometer jauhnya mendadak akan tinggal dalam satu rumah.
Menyenangkan kan?
Yg tadinya banyak larangan krn belum terikat ikatan suci, mendadak krn ijab kabul dalam hitungan menit semua yg terlarang menjadi halal.

Menikah itu berjuang menerima perbedaan.
Berjuang memberi uzur dalam perbedaan akan segala hal.

Sifat buruk yg mgkn sepele yg sblm menikah dianggap cute, saat menikah bisa menjadi hal yg fatal.

Manja dulu sesuatu yg lucu dan manis, tp lihatlah setelah menikah semua pria sebal pada wanita yg manja dan menyusahkan. Mrk sibuk membandingkan wanita lain yg lebih tangguh dan sigap.
Begitupun pria, sblm menikah sifat santai, pelupa, dan ga gesit tidak terlalu membuat frustasi, tapi setelah menikah, manalah ada wanita yg senang dengan pria yg lelet dan cuma mau tau beres.

Saat belum menikah, si single harus mempertebal iman.
Menjaga diri sebaik-baiknya spy kelak Allah pertemukan dengan jodoh yg sepadan.
Jodoh yg sesuai dengan kelayakan diri.
Jika belum bisa menikah, belum Allah pertemukan dengan jodohnya, takut sulit menjaga diri, diperintahkan untuk berpuasa.
Jangan dekati zina, krn dosa zina itu tidak main-main.

Lalu saat setelah menikah apakah kita lega?
Ohoho… Terkadang perumpamaannya saat lajang lalu menikah bagaikan lolos dari kandang macan untuk masuk kandang buaya.
Why seems so scary?
Untuk yg mau berfikir dalam, menikah itu pasti sesuatu yg mmg mengerikan, bukan romantisme belaka dan bersantai-santai.
Sebelum nikah harus punya iman yg kuat, maka saat menikah iman harus makin tinggi.
Bgmn mgkn yg pria mau menjadi pemimpin tanpa iman?
Bgmn mgkn yg wanita mau menjadi istri dan ibu anak anaknya tanpa iman?
Ujian tidak akan lebih mudah dari sebelumnya.
Semakin kompleks.
Hadir atau tidak hadir anak bisa menjadi masalah.
Ada atau belum punya rumah bisa menjadi masalah.
Dan semua hal bisa mnjadi masalah tanpa adanya iman yg kuat.

Bagi wanita, taat pada suami yg baru bbrp waktu dikenalnya tidak akan menjadi lebih mudah dibanding perintah taat pada ibu bapanya jika tanpa iman.
Padahal itulah jalan surganya skrg.
Dan bagi pria, perintah untuk tetap berbakti pada org tuanya tidak menjadi lebih mudah dibanding mendengarkan keinginan keinginan istrinya jika tanpa iman.

Belum lagi sblm menikah masing masing merasa berhak mengatur hidupnya sendiri.
Lalu saat menikah mulailah masing masing wajib mengambil peranan.
Peranan yg diambil tidak sembarangan.
Tapi sesuai dengan janji kita di hadapan Allah.
Maka yg laki laki sesuaikan dengan apa yg Allah perintahkan.
Yg wanita juga sesuaikan dengan apa yg Allah perintahkan.

Saat ada yg salah memainkan peranan, liat aja.
Kemesraan itu buyar.
Pertengkaran demi pertengkaran tak bisa dihindari.
Satu pihak akan menuntut pihak lain.
Pihak yg dituntut mulai membanding-bandingkan dengan keadaan yg lebih memberi kenyamanan.
Ish siapa yg bilang lah menikah itu senang terus? Itu pikiran kita dulu yg berharap demikian.

Tanya pada org sepuh yg berpuluh puluh taun menikah.
Manalah mrk hidup tanpa masalah.

Kuncinya cuma sabar.
Selalu introspeksi dan serahkan masalah pd Allah.

Mungkin saat menikah kita merasa menjadi pihak yg mengalah bertaun-taun.
Maka sabarlah jika mmg benar demikian maka kelak Allah akan balikkan keadaan.

Jangan anggap ekonomi adalah masalah terbesar dlm rumah tangga.
Krn sungguh rumah tangga Rasulullaah dan para sahabat sebagian besar hidup dalam keadaan yg sangat sederhana.
Tapi mengapa rumah tangga mrk sukses.
Mengapa hubungan suami istri mrk baik baik saja meskipun berhari hari kdg tanpa makanan? Karena yg mereka jaga adalah iman.
Iman jgn sampai melemah, apalagi keluar dari hati.

Kita mau mencontoh rumah tangga siapa?
Rumah tangga bergelimang tahta dan kemewahan, maka Firaun Qarun adalah contoh yg terlaknat.
Rumah tangga para artis yg nampak romantis selalu, dikemudian hari diberitakan bercerai dan masing masing menikah dengan selingkuhannya.
Rumah tangga para pejabat yg nampak hidupnya tak berkekurangan, dikemudian hari diciduk polisi atas tuduhan korupsi dan anak anaknya terkena kasus narkoba.

Terlalu sempit jika kita membandingkan rumah tangga kita dengan org lain.
Krn masing masing menjalani skenarionya sendiri.
Berperanlah sebaik baiknya.
Maka janji Allah adalah pasti.
Pihak terzhalimi jika bersabar maka Allah akan karuniakan kemenangan kelak.
Kebaikan yg tidak dihargai oleh pasangan maka Allah sungguh tidak pernah menyia-nyiakan perbuatan baik hambaNya sekecil apapun.

Yg masih sendiri, berjuanglah dlm ketaatan pd Rabb. Spy setelah menikah iman yg tebal menjadi penjaga untuk menjalani rumah tangga yg tidak mudah tadi.
Yg sudah menikah, berjuanglah pertebal iman selalu. Berpeganglah hanya pd Allah.

Hidup di dunia ini hanya sementara.
Sukses tidaknya tidak ditentukan oleh pihak lain.
Semua hanya ditentukan oleh diri kita sendiri.

Taat pd Allah dalam keadaan apapun akan selamat.

Asiyah istri Firaun taat pd Allah dlm suasana kedzaliman suaminya maka masuk surga meskipun suaminya celaka.
Istri nabi Nuh dan Nabi Luth tidak taat maka masuk neraka meskipun suaminya masuk surga.

Semoga menjadi rumah tangga yg selamat suami istri dan turunan kita masuk surgaNya Allah seperti rumah tangganya Rasulullaah shalallaahu ‘alaihis wa salam, bapak para Nabi, Nabi Ibrahim alaihissalam, dan para sahabat serta sahabiyah yg memegang teguh keimanannya walopun apapun yg terjadi.

Semoga Allah mudahkan perjuangan masing masing ya.
Allah tidak membebani seseorang diluar kesanggupannya.
Allah hanya ingin menguji kemana kita bersimpuh saat ujian itu datang.

Barakallaahu fiik
Bunda kaska

Advertisements